Selasa, 01 Oktober 2013

PROSES SOSIAL DALAM BUDAYA DI CIREBON

PROSES SOSIAL DALAM BUDAYA DI CIREBON

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada.  Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hokum.  Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.  Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak.  Interaksi sosial tak akan mungkin terjadi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud.  Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :
1.      Imitasi
Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.

2.      Sugesti
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.



3.      Identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.  Identifikasi sifatnya lebih mendalam dari pada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.

4.      Simpati
Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.  Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walau pun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.

Interaksi merupakan hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, ada aksi dan ada reaksi, pelakunya lebih dari satu, individu dan individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompok dan lain-lain.  Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.  Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.  Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan.  Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki makna yang berbeda.  Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.  Arti lain dari budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.  Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa interaksi budaya adalah sebuah proses saling mempengaruhi suatu cara hidup yang berkembang di suatu kelompok manusia dan memiliki efek satu sama lain.  Berikut adalah contoh-contoh interaksi dalam budaya :
 1. Kerja Sama
Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan.
Contoh: Gotong royong yang dilakukan di suatu desa untuk membangun rumah salah satu warga.

2. Akomodasi
Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa cara menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiaanya.
Contoh: PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) membantu penyelesaiannya dua negara yang sedang berselisih.

3. Asimilasi
Proses asimilasi di tandai dengan usaha dari orang atau kelompok manusia untuk mengurangi perbedaan-perbedaan yang ada. perberdaan-perbedaan tersebut dapat berupa sikap, tindakan, perasaan, dan budaya. Hasil asimilasi menyebabkan semakin tipisnya batas perbedaan antara dua individu dalam satu kelompok maupun batas-batas perbedaan antar kelompok.
Contoh: Pasangan suami istri, istri bersuku jawa sedangkan suami bersuku Sumatra, maka lambat laun mereka akan membentuk budaya bari dimana keduanya melebur.

4. Akulturasi
Akulturasi adalah dua kebudayaan yang hidup berdampingan secara damai.  Hal ini terjadi karena dalam asimilasi terdapat proses penerimaan dan pengalihan unsur-unsur kebudayaan suatu kelompok lain dengan tidak mengilangkan ciri budaya dari masing-masing kelompok.
Contoh: Pertemuan antara kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam di  Indonesia menghasilkan kebudayaan Islam yang bercorak Hindu.


Salah satu bentuk/ contoh dari interaksi asimilasi dan akulturasi budaya dapat dilihat di salah kota besar di Jawa Barat yaitu Cirebon.  Di Cirebon masih terdapat cukup banyak bangunan-bangunan yang merupakan hasil peninggalan masa lampau yang trpelihara dengan baik hingga saat ini, sebagai bentuk interaksi dari akulturasi budaya yang dituang ke dalam karya seni bangunan yang indah yaitu arsitektur.  Salah satunya dapat dilihat di Keraton Kasepuhan yang merupakan peninggalan sejarah Kota Cirebon yang masih berdiri kokoh hingga kini, keraton yang terletak di tengah Kota Cirebon yaitu tepatnya di Jalan Keraton Kasepuhan no 43.  Dalam keraton ini banyak terdapat nuansa akulturasi antara budaya Jawa, Sunda bahkan Cina dan Eropa.  Hal ini dapat dilihat dari ornamen-ornamen yang terdapat di dalam keraton mulai dari porselain-porselain Cina, lampu-lampu hias dari Eropa dan juga keramik-keramik yang melukiskan gambar-gambar tentang tokoh dalam Alkitab.  Bila melihat keluar, terdapat gerbang yang menyerupai pura di Bali, ukiran daun pintu gapuranya yang bergaya Eropa, pagar Siti Hingilnya dari keramik Cina, dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa yang merupakan bukti lain terjadinya proses akulturasi.  Nuansa akulturasi semakin nyata bila memasuki ruang depannya yang sekarang berfungsi sebagai museum.  Di dalam museum terdapat benda-benda peningggalan kerajaan seperti peralatan perang, meriam, dan kereta kencana yang digunakan saat berperang.  Kereta ini disebut kereta singa barong, berkepala gajah yang belalainya memegang trisula yang merupakan pengaruh Hindu.  Sedangkan singgasana raja yang terbuat dari kayu sederhana dengan latar 9 warna bendera yang melambangkan Wali Songo.  Hal ini membuktikan bahwa Kesultanan Cirebon juga terpengaruh oleh budaya Jawa dengan Agama Islam dan budaya luar dengan agama Hindu.  Keraton Kasepuhan kian mengukuhkan bahwa di Kota Cirebon pernah terjadi akulturasi.  Akulturasi yang terjadi bukan hanya antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Sunda tetapi juga dengan berbagai kebudayaan di dunia seperti Cina, India, Arab, dan Eropa. Hal inilah yang membentuk identitas dan tipikal masyarakat sekarang ini yang bukan Jawa dan bukan Sunda, namun merupakan gabungan dari kedua suku tersebut.  Sehingga Cirebon memiliki budaya baru yang merupakan akulturasi dari suku Jawa dan suku Sunda yang telah melebur, dan berbagai kebudayaan luar yang menjadi satu padu dalam budaya baru namun tetap mempertahankan ciri khas masing-masing budayanya.  Jika meninjau dari bahasa di Cirebon yang merupakan asimilasi atau hasil peleburan dari bahasa Jawa dan bahasa Sunda yang membentuk bahasa sendiri dan kini menjadi ciri khas dari bahasa Cirebon itu sendiri.  Hal-hal tersebut semakin menguatkan asumsi bahwa di Kota Cirebon telah terjadi proses asimilasi yang merupakan hasil dari interaksi budaya yang lokasinya berdekatan dengan Kota Cirebon tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

turun lapang

turun lapang

turun lapang

turun lapang
Diberdayakan oleh Blogger.