Rabu, 02 Oktober 2013

LAPORAN RESPIRASI PADA SERANGGA JANGKRIK





RESPIRASI DALAM SERANGGA JANGKRIK
( LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM)




Oleh :

Riki Arya Dinata
1214131083




LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012


                                                           




Judul Percobaan          : Respirasi Dalam Serangga Jangkrik

Tanggal Percobaan      : 13 Nopember 2012

Tempat Percobaan       : Laboratorium Zoologi

Nama                           : Riki Arya Dinata

NPM                           : 1214131083

Kelompok                   : IV (Empat)

Jurusan                        : Agribisnis

Fakultas                       : Pertanian







Bandar Lampung, 13 November 2012
Mengetahui
Asisten


         Suci
      NPM :





DAFTAR ISI


LEMBAR PENGESAHAN                                                                                  i

DAFTAR ISI                                                                                             ii

I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                                                                              1
B.     Tujuan Praktikum                                                                          2

II.                TINJAUAN PUSTAKA

III.              METODOLOGI PENELITIAN
A.    Waktu dan Tempat                                                                       6
B.     Alat dan Bahan                                                                             6
C.     Cara Kerja                                                                                     6

IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan                                                                         8
B.     Pembahasan                                                                                  8

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN







I.                   PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Respirasi adalah serangkaian reaksi biokimiawi yang memerlukan oksigen untuk mengoksidasi atau membakar zat-zat makanan guna menghasilkan energi diperlukan oleh makhluk hidup dengan hasil samping berupa karbon dioksida. Walaupun respirasi dan bernapas saling berhubungan , respirasi memiliki arti yang lebih dalam, respirasi merupakan proses menghasilkan energi, sedangkan bernapas merupakan cara makhluk hidup melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untuk melakukan aktivitas kehidupan, seperti sintesis, gerak, pertumbuhan, dan bereproduksi. Respirasi dilakukan oleh semua makhluk hidup dengan semua penyusun tubuh, baik sel maupun mulut. Secara sederhana reaksi kimia  yang trejadi dalam respirasi dapat ditulis sebagai berikut :

C6H12 + O2                   CO2 + H2O + energi

Oksigen yamg diperoleh dari proses bernapas digunakan dalam proses respirasi, sedangkan karbon dioksida yang dihasilkan ari proses respirasi dikeluarkan melalui proses bernapas. Respirasi berkaitan erat dengan laju metabolisme karena laju metabolisme merupakan jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksida dan bahan makanan memerlukan oksigen ( dalam jumlah yang dibutuhkan ) untuk menghasilkan energi yang diketahui menghasilkan jumlahnya juga, akan tetapi laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor mempengaruhi laju

konsumsi oksigen antara lain spesies hewan, temperatur, aktivitas dan ukuran badan.
Sel-sel tubuh terus menerus menggunakan oksigen untuk reaksi metabolisme yang melepaskan energy dari molekul nutrien dan menghasilkan ATP. Pada waktu yang sama, reaksi ini juga melepaskan karbon dioksida. Konsumsi oksigen dan produksi karbon dioksida terjadi di dalam mitokondria sesuai terjadinya respirasi seluler. Kerena jumlah karbon dioksida yang melimpah menghasilkan keasaman yang bersifat racun bagi sel tubuh, maka CO2  yang berlimpah itu harus dibuang dengan cepat. Dua sistem yang memasok oksigen dan membuang karbon dioksida adalah sistem kardioksikular dan sistem respirasitori. Sistem respirasitori memberikan pertukaran gas, mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida, sedangkan sistem kardioksikular mengangkut gas dalam darah antara paru-paru dan sel-sel, tubuh.


B. Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini adalah untuk :
1.Mempelajari proses pernapasan hewan.
2.Mengetahui pengaruh berat serangga yaitu jangkrik terhadap laju respirasi.
3.      Melihat faktor- faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan oksigen pada hewan saat bernapas.














II.                TINJAUAN PUSTAKA


Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif  banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi. Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untak kegiatan kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak, pertumbuhan. Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, rspirasi dapat dibedakan menjadi respirasi aerob yaitu respirasi yang menggunakan oksigen bebas untuk mendapatkan energi dan respirasi anaerob atau biasa disebut dengan proses fermentasi yaitu respirasi yang tidak menggunakan oksigen namun bahan bukunya adalah seperti karbohidrat, asam lemak, asam amino sehingga hasil respirasi berupa karbondioksida, air dan energi dalam bentuk ATP (Anonim1,2009).

Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu).
Secara umum, respirasi karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + O2———————————> 6CO2 + H2O + energi
. Reaksi ini merupakan persamaan rangkuman dari reaksi-reaksi yang terjadi dalam proses respirasi.
Contoh:
Respirasi pada Glukosa, reaksi sederhananya:
C6H12O6 + 6O2 ———————————> 6H2O + 6CO2 + Energi (glukosa) (Anonim2, 2009).
Pertukaran gas antara atmosfer, darah, sel-sel disebut respirasi. Tiga proses dasar terlibat dalam respirasi yaitu, pertama ventilasi paru atau bernapas, adalah inspirasi (aliran masuk) dan ekspirasi (aliran keluar) udara antara atmosfer dengan paru-paru. Proses kedua dan ketigaa melibatkan pertukaran gas di dalam tubuh. Respirasi eksternal dan respirasi paru adalah pertukaran gas antar paru-paru dan darah. Respirasi saringan adalah pertukaran gas antara darah dan sel-sel tubuh (Soenaryo, 1999).
Bernafas merupakan salah satu ciri dan aktivitas makhluk hidup. Istilah pernafasan sering di sama artikan dengan istilah Respirasi, walau sebenarnya kedua istilah tersebut secara harfiah berbeda. Pernafasan (breathing) berarti menghirup dan menghembuskan nafas. Bernafas berarti memasukkan udara dari lingkungan luar ke dalam tubuh dan mengeluarkan udara sisa dari dalam tubuh ke lingkungan luar. Sedangkan respirasi (respiration) berarti suatu proses pembakaran (oksidasi) senyawa organik (bahan makanan) di dalam sel guna memperoleh energi. Pada hewan – hewan tingkat tinggi terdapat alat untuk proses pernafasan, yakni berupa paru – paru, insang atau trakea, sementara pada hewan – hewan tingkat rendah dan tumbuhan proses pertukaran udara tersebut dilakukan secara langsung dengan difusi melalui permukaan sel – sel tubuhnya. Dari alat pernafasan, oksigen masih harus di angkut oleh darah atau cairan tubuh ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan. Selanjutnya oksigen tersebut akan dimanfaatkan untuk oksidasi di dalam sel guna menghasilkan energy (Campbell,2000).
Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi hasil respirasi tersebut sangat diperlukan untuk aktivitas hidup, seperti mengatur suhu tubuh, pergerakan, pertumbuhan dan reproduksi. Jadi kegiatan pernafasan dan respirasi tersebut saling berhubungan karena pada proses pernafasan dimasukkan udara dari luar (oksigen) dan oksigen tersebut digunakan untuk proses respirasi guna memperoleh energi dan selanjutnya sisa respirasi berupa gas karbon dioksida (CO2) dikelurkan melalui proses pernafasan. Karena hewan – hewan tingkat rendah dan tumbuhan tidak memiliki alat pernafasan khusus sehingga oksigen dapat langsung masuk dengan cara difusi, maka sering kali istilah pernafasan disamakan dengan istilah respirasi. Dengan demikian perbedaan kedua istilah itu tidak mutlak. Untuk bernafas, hewan – hewan tertentu memiliki alat pernafasan. Alat – alat pernafasan tersebut berperan dalam proses pemasukan oksigen dari lingkungan luar ke dalam tubuh serta pengeluaran CO2 dari tubuh kelingkungan luar. Alat – alat pernafasan pada hewan berbeda – beda sesuai dengan perkembangan struktur tubuh dan tempat hidupnya. Hewan darat menggunakan paru – paru untuk bernafas dan pada kelompok burung, paru – paru dilengkapi dengan kantong udara. Pada katak dewasa selain menggunakan paru – paru juga menggunakan kulit untuk membantu pernafasan. Hewan yang hidup diperairan (hewan akuatik), misalnya ikan dan udang mempunyai insang. Serangga umumnya mempunyai alat perrnafasan berupa trakea dan hewan invertebrata yang lain memiliki organ yang berbeda pula. Alat pernafasan hewan pada dasarnya berupa alat pemasukan dan alat pengangkutan udara. Apabila alat pemasukan ke dalam tubuh tidak ada, maka pemasukan oksigen dilakukan dengan cara difusi, misalnya pada protozoa. Pada cacing tanah, oksigen masuk secara difusi melalui permukaan tubuh, kemudian masuk ke pembuluh darah. Di dalam darah, oksigen di ikat oleh pigmen – pigmen darah, yaitu hemoglobin yang larut dalam plasma darah. Pada hewan lain, hemoglobin terkandung di dalam sel darah merah (Syamsuri, 2003).






III.             METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat

            Pada penelitian kali ini kita melakukan penelitian pada hari Selasa, 13 Nopember 2012 di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Umum Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.


B. Alat dan Bahan

            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah Respirometer, neraca dan kapas. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian adalah Jangkrik, NaOH, Oselin, Vaselin.

C. Cara Kerja


  1. Mengukur Laju Respirasi

Menimbang 1 ekor jangkrik, kemudian catat beratnya

Masukkan kristal KOH dan kapas ke dalam respirometer
 




Masukkan 2 tetes eosin ke dalam pipa berskala respirometer
 




Kemudian hubungkan pipa berskala tersebut dengan tabung respirometer
 




Amati pipa itu dan catat perubahan skala larutan eosin setiap menit
 




Tentukan laju respirasi jangkrik dalam satuan mm/menit/gram



























IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan


NO

Berat Jangkrik

Laju Respirasi
5’
10’
15’
1
0,03 gr
1 ml
0,35 ml
0,31 ml
2
0,6 gr
0,03 ml
0,15 ml
0,18 ml
3
0,4 gr
0,09 ml
0,15 ml
0,18 ml
4
0,5 gr
0,32 ml
0,49 ml
0,59 ml


B. Pembahasan

Praktikum ini menggunakan respirometer yang befungsi untuk mengukur laju respirasi seraangga yaitu jangkrik. Berat jangkrik merupakan factor utama dalam paktikum ini, sehingga sebelum melakukan praktikum jagkrik harus ditimbang terlebih dahulu.
Alat yang digunakan pada praktikum ini adlah respirometer, eosin, NaOH.

Pernafasan pada serangga dilakukan denga menggunakan sistem trakea. Udara keluar dan masuk tidak melalui mulut melainkan melalui lubang – lubang sepanjang kedua sisi tubuhnya. Lubang – lubang pernafasan tersebut dinamakan stigma atau spirakel. Pada masing – masing ruas tubuh terdapat sepasang stigma, sebuah di sebelah kira dan sebuah lagi di sebelah kanan. Stigma selalu terbuka dan merupakan lubang menuju ke pembuluh trakea. Trakea bercabang – cabang sampai ke pembuluh halus yang mencapai seluruh bagian tubuh. Udara masuk melalui stigma, kemudian menyebar mengikuti trakea dengan cabang – cabangnya. Jadi, oksigen diedarkan tidan melalui darah melainkan langsung dari pembuluh trakea ke sel – sel yang ada disekitarnya. Dengan demikian cairan tubuh serangga (“darah serangga”) tidak berfungsi mengangkut udara pernafasan tetapi hanya berfungsi mengedarkan sari – sari makanan dan hormon.
Proses pernafasan serangga terjadi karena otot – otot yang bergerak secara teratur. Kontraksi otot – otot tubuh mengakibatkan pembuluh trakea mengembang dan mengempis, sehing udara keluar dan masuk melalui stigma. Pada saat trakea mengembang, udara masuk melalui stigma, selanjutnya masuk ke dalam trakea, lalu ke dalam trakeolus dan akhirnya masuk ke dalam sel – sel tubuh. O2 berdifusi ke dalam sel – sel tubuh. CO2 hasil pernafaasan dikeluarkan melalui sistem trakea yang akhirnya dikeluarkan melalui stigma pada waktu trakea mengempis.


























KESIMPULAN

            Setelah melakukan penelitian maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Semua organisme membutuhkan oksigen untuk berespirasi.
2.       Kebutuhan oksigen setiap organisme dipengaruhi oleh jenis organisme, ukuran berat tubuh, serta aktivitas organisme tersebut.
3.      Tidak semua jenis hewan memiliki sistem respirasi yang sama, alat – alat pernapasan dan lain sebagainya yang sama pula.
4.      Habitat yang mereka tempati juga mempengaruhi sistem  respirasi mereka, walaupun pada jenis serangga ataupun jenis hewan yang serupa.














DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2009.Respirasi.hhtp://id.wikipedia.org/wiki/respirasi:   Diakses pada 16 Nopember 2012.

Campbell, Neil A.2000.Biologi.Jakarta : Erlangga.

Jasin, Maskeri. 1983. Sistematik Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya

Soenaryo.1999.Anatomi dan Fisiologi Makhluk Hidup.Malang: MSREP-SKA.
Syamsuri. 2003. Biologi Jilid 2B untuk SMA Kelas IX Semester 2. Jakarta : Erlangga.

















LAMPIRAN








PERHITUNGAN

Kelompok  I
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                     = 1 ml / 0,03 mg / 300 s
                                     = 0,11
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,35 ml / 0,03 mg / 600 s
                                     = 0,019
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,31 ml / 0,03 mg / 900 s
                                     = 0,011




Kelompok  II
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                     = 0,03 ml / 0,6 mg / 300 s
                                     = 0,0001
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,15 ml / 0,6 mg / 600 s
                                     = 0,0004
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,18 ml / 0,6 mg / 900 s
                                     = 0,0003

Kelompok  III
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                     = 0,09 ml / 0,4 mg / 300 s
                                     = 0,0007
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,15 ml / 0,4 mg / 600 s
                                     = 0,0006
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,18 ml / 0,4 mg / 900 s
                                     = 0,0005

Kelompok  IV
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                     = 0,32 ml / 0,5 mg / 300 s
                                     = 0,002
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,49 ml / 0,5 mg / 600 s
                                     = 0,0016
            Laju Respirasi = Volume O2/ massa jangkrik/waktu
                                     = ml / mg / s
                                                 = 0,59 ml / 0,5 mg / 900 s

                                     = 0,0013
Read More ->>

LAPORAN PLASMOLISIS





METABOLISME TUMBUHAN
( LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM)




Oleh :

Riki Arya Dinata
1214131083




LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012


                                                           




Judul Percobaan          : Metabolisme Tumbuhan

Tanggal Percobaan      : 20 Nopember 2012

Tempat Percobaan       : Laboratorium Zoologi

Nama                           : Riki Arya Dinata

NPM                           : 1214131083

Kelompok                   : IV (Empat)

Jurusan                        : Agribisnis

Fakultas                       : Pertanian







Bandar Lampung, 13 November 2012
Mengetahui
Asisten


                         Suci Natalia
                              NPM : 1017021049





DAFTAR ISI


LEMBAR PENGESAHAN                                                                                  i

DAFTAR ISI                                                                                             ii

I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                                                                              1
B.     Tujuan Praktikum                                                                          2

II.                TINJAUAN PUSTAKA

III.              METODOLOGI PENELITIAN
A.    Waktu dan Tempat                                                                       6
B.     Alat dan Bahan                                                                             6
C.     Cara Kerja                                                                                     6

IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan                                                                         8
B.     Pembahasan                                                                                  8

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN







I.                   PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Makhluk hidup terdiri atas sel, karena itulah manusia harus mempelajari tentang keadaan selnya atau sel- sel lainnya yang menunjang kehidupannya. Suatu sistem transportasi sangat penting bagi tunbuhan dan hewan yang berkaitan dengan masa organisme tersebut.  Pada tanaman dan hewan yang masih sederhana transfor materi berlangsung secara osmosis, dan difusi.  Pada sel hewan, jika suatu sel (sel darah merah) berada pada cairan yang Hipotonik maka sel darah merah akan pecah, namun jika berada dalam cairan yang hiportonis maka sel darah akan pecah.
Metabolisme berasal dari kata Yunani “Metabole” yang berarti perubahan. Metabolisme kadang juga diartikan pertukaran zat antaara satu sel atau secara keseluruhan dengan lingkungannya. Salah satu aktivitas protoplasma yang penting adalah pembentukan sel baru dengan cara pembelahan. Sebelum sel melakukan pembelahan, maka protoplasma akan aktif mengumpulkan serta mensintesa karbohidrat, protein, lemak dan banyak lagi senyawa kompleks yang merupakan bagian dari protoplasma dan dinding sel. Bahan dasar untuk sintesa senyawa organic tersebut adalah unsure-unsur aorganic yang diserap oleh akar dan gula yang dibentuk dari karbon dioksida dan air pada proses fotosintesa (asimilasi karbon).
Metabolisme adalah segala proses reaksi kimia yang terjadi didalam tubuh makhluk hidup, mulai makhluk hidup bersel satu hingga yang memiliki susunan tubuh kompleks seperti manusia. Dalam hal ini, makhluk hidup mendapat, mengubah dan memakai senyawa kimia dari sekitarnya untuk mempertahankan hidupnya.
Metabolisme meliputi proses sintesis (anabolisme) dan penguraian (katabolisme) senyawa atau komponen dalam sel hidup. Semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Hal lain yang penting dalam metabollisme adalah perenannya dalam penawar racun atau detoksifikasi.
Proses metabolisme yang terjadi didalam sel merupakan aktivitas yang sangat terkoordinasi, melibatkan kerjasama berbagai system enzim yang mengkatalis reaksi-reaksi secara bertahap dan memerlukan pengaturan metabolic untuk mengendalikan mekanisme reaaksinya.

B. Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini adalah untuk :
1. Memahami terjadinya peristiwa plasmolisis
 2.Memahami terjadinya peristiwa deplasmolisis
3. Untuk mengetahui pengaruh glukosa pada Rhoe discolor















II.                TINJAUAN PUSTAKA

Pada tumbuhan protoplasma sel mempunyai plasma dan pada hewan berupa selaput sel yang mampu mengatur sel secara selektif aliran cairan dari lingkungan suatu sel ke dalam sel atau sebaliknya.  Terdapat dua proses fisiokimia yang penting, yaitu difusi dan osmosis, dengan adanya proses osmosis suatu selaput dinyatakan permeabel, semipermiabel, atau impermiabel.  Sistem transportasi pada tumbuhan melibatkan proses difusi, osmosis, dan transpor aktif  (Goldworty, 1992).

Plasmolisis adalah proses terlepasnya protoplasma dari dinding sel yang disebabkan oleh air yang berada dalam vakoula merembes keluar dari sel, yaitu bila tumbuhan berada pada lingkungan yang kadar airnya rendah, maka tumbuhan akan sulit menyerap air. Pada kasus tertentu, air di dalam sel juga akan keluar. Bila terjadi terus-menerus, maka selaput plasma akan lepas dari dinding sel. Bila plasmolisis berkepanjangan, maka sel tersebut akan mati dan untuk mengembalikannya diperlukan proses sebaliknya.  Keadaan ini dapat kembali ke keadaan semula apabila sel tersebut diletakkan di lingkungan dengan kadar air yang lebih tinggi (hipotonis). Peristiwa kembalinya protoplasma ini disebut dengan deplasmolisis (Wilkins, 1992).

Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis. Plasmolisis hanya terjadi pada kondisi eksterm, dan jarang terjadi di alam. Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan sel pada larutan bersalinitas tinggi atau larutan gula untuk menyebabkan ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea atau sel epidermal bawang yang memiliki pigmen warna sehingga proses dapat diamati dengan jelas ( Lukyati, 1999).

Sel tumbuhan memiliki ciri fisiologi yang berbeda dengan sel hewan khususnya dengan keberadaan dinding sel pada sel tumbuhan. Dinding sel pada tumbuhan tinggi merupakan matriks yang di dalamnya terdapat rangka, yaitu senyawa selulosa yang berwujud mikrofibril atau benang halus. Matriks pada dinding sel ini tersusun dari beberapa senyawa yaitu hemiselulosa, pektin, plastik biologik, protein dan lemak. Dinding sel selain berfungsi untuk proteksi isi sel juga berperan sebagai jalan keluar masuknya air, makanan dan garam-garam mineral ke dalam sel.  Dinding sel secara umum dibedakan menjadi dinding sel primer dan dinding sel sekunder. Perbedaan antara kedua macam dinding ini terletak pada fleksibilitas, ketebalan, susunan mikrofibril dan pertumbuhannya (Istanti, 1999).

Menurut Bidwell (1979) molekul air dan zat terlarut yang berada dalam sel selalu bergerak. Oleh karena itu terjadi perpindahan terus-menerus dari molekul air, dari satu bagian ke bagian yang lain. Perpindahan molekul-molekul itu dpat ditinjau dari dua sudut. Pertama dari sudut sumber dan dari sudut tujuan. Dari sudut sumber dikatakan bahwa terdapat suatu tekanan yang menyebabkan molekul-molekul menyebar ke seluruh jaringan. Tekanan ini disebut dengan tekanan difusi. Dari sudut tujuan dapat dikatakan bahwa ada sesuatu kekurangan (deficit akan molekul-molekul. Hal ini dibandingkan dengan istilah daerah surplus molekul dan minus molekul. Ini bararti bahwa di sumber itu ada tekanan difusi positif dan ditinjau adanya tekanan difusi negative (Fitter, A.H., 1991). 















III.             METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat

            Pada penelitian kali ini kita melakukan penelitian pada hari Selasa, 20 Nopember 2012 di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Umum Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.


B. Alat dan Bahan

            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah gelas kimia (50 ml), pipet tetes, stopwatch, mikroskop, kaca preparat, kaca penutup preparat, pisau silet, blood lanset. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, larutan metilen blue,  daun Rhoe discolor, aquades, larutan sukrosa 0,2 M, kapas.  

C. Cara Kerja

Disayat permukaan epidermis bawah daun Rhoeo discolor ( bagian yang berwarna ungu-merah ), diletakkan sayatan pada gelas objek yang telah ditetesi akuades dan ditutup dengan kaca penutup. Diamati di bawah mikroskop dan digambar,  apabila tampak jelas, ditetesi larutan sukrosa pada salah satu tepi gelas penutup dan pada tepi yang lain ditempelkan kertas penghisap ( tisu )  sehingga akuades terserap oleh kertas penghisapdan medium sayatan diganti oleh larutan sukrosa, diamati dengan mikroskop selama 5 menit, dicatat semua perubahan yang terjadi






IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan



B. Pembahasan

Pada sel Rhoeo discolor kita melihat adanya peristiwa plasmolisis dan deplasmolisis. Peristiwa plasmolisis adalah peristiwa lepasnya membran sel dari dinding sel sebagai dampak dari hipertonisnya larutan diluar sel, sehingga cairan yang berada di dalam sel keluar dari sel dan akibatnya tekanan turgor sel menjadi tidak ada. Efek selanjutnya yang ditimbulkan adalah karena potensial air dalam sel lebih tinggi dari luar sel, maka air di luar sel bergerak ke dalam dinding sel mendesak membran sel yang mengakibatkan membran sel terlepas dari dinding sel. Larutan tersebut tidak dapat menembus membran sel karen memiliki ukuran yang lebih besar dari molekul air. Tanda – tanda yang terlihat pada sel yang mengalami plasmolisis ini adalah menghilangnya warna yang ada di dalam sel dan mengerutnya pinggiran membran sel ke arah dalam.
 Prinsip yang digunakan dalam peristiwa ini adalah karena terjadinya pristiwa osmosis sebagai akibat adanya perbedaan konsentrasi zat terlarut dalam air medium dibanding zat terlarut yang ada di dalam protoplasma sel atau dapat diartikan sebagai dampak perbedaan potensial air antara dua tempat air yang dibatasi oleh membran sel tersebut.. Kondisi sel yang terplasmolisis tersebut dapat dikembalikan ke kondisi semula. Proses pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondisi semula ini dikenal dengan istilah deplasmolisis.
 Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hampir sama dengan plasmolisis. Tapi, konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi adalah cairan yang memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar, sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran sel karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya molekul-molekul air tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan sehingga membran sel kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan semula.
Deplasmolisis merupakan kebalikan dari plasmolisis, yaitu menyatunya kembali membran plasma yang telah lepas dari dinding sel. Deplasmolisis terjadi jika sel tumbuhan diletakkan di larutan hipotonik, sel tumbuhan akan menyerap air dan juga tekanan turgor meningkat. Banyaknya air yang masuk ke dalam sel akan menyebabkan terjadinya deplasmolisis. Membran plasma akan mengembang sehingga akan melekat kembali pada dinding sel

Jika sel tumbuhan diletakkan di larutan glukosa terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis: tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Akhirnya cytorrhysis – runtuhnya seluruh dinding sel – dapat terjadi. Tidak ada mekanisme di dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara berlebihan, juga mendapatkan air secara berlebihan, tetapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakkan di larutan hipotonik. Proses sama pada sel hewan disebut krenasi. Cairan di dalam sel hewan keluar karena peristiwa difusi.
Plasmolisis hanya terjadi pada kondisi ekstrem, dan jarang terjadi di alam. Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan sel pada larutan bersalinitas tinggi atau larutan gula untuk menyebabkan ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea atau sel epidermal glukosa yang memiliki pigmen warna sehingga proses dapat diamati dengan jelas.
Semakin tinggi tingkat konsentrasi glukosa  dan semakin lama waktu untuk mendiamkan maka semakin banyak pula membran plasma yang lisis.



KESIMPULAN

            Setelah melakukan penelitian maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Larutan yang hipertonis menyebabkan peristiwa plasmolisis dan jika diencerkan kembali (hipotonis) akan menyebabkan peristiwa deplasmolisis.
  2. Semakin tinggi tingkat konsentrasi glukosa  dan semakin lama waktu untuk mendiamkan maka semakin banyak pula membran plasma yang lisis.
  3. Sel tumbuhan dimasukkan ke dalam larutan hipertonis, protoplasmanya akan menyusut dan lepas dari dinding selnya. Proses ini disebut plasmolisis. Plasmolisis dapat menyebabkan tumbuhan menjadi layu.
  4. Penyebab dari plasmolisis adalah terjadinya peristiwa osmosis antara sel dengan lingkungannya.
  5. Ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indicator dari ada atau tidaknya osmosis yang terjadi.
  6. Plasmolisis dan deplasmolisis terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi zat yang mengakibatkan adanya keadaan hipertonis dan hipotonis.







DAFTAR PUSTAKA

Fitter, A.H. dan R.K.M. Hay, 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Goldworthy, R. dan N.M. Fisher, 1992. Fisiologi Tanaman Budidya Tropik. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Istanti, Annie; Prasetyo, Triastono I. dan Dwi Listyorini. 1999. Biologi Sel. Malang: FMIPA UM.
Lukyati, Betty, dkk. 199 . Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Malang: FMIPA UM

Wilkins, M. B. 1992. Fisiologi Tanaman. Jakarta: Bumi Angkasa.
Read More ->>

turun lapang

turun lapang

turun lapang

turun lapang
Diberdayakan oleh Blogger.