Rabu, 02 Oktober 2013

LAPORAN FOTOSINTESIS

DAFTAR ISI


LEMBAR PENGESAHAN                                                                            i

DAFTAR ISI                                                                                                  ii

I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                                                                              1
B.     Tujuan Praktikum                                                                          2

II.                TINJAUAN PUSTAKA

III.              METODOLOGI PENELITIAN
A.    Waktu dan Tempat                                                                       6
B.     Alat dan Bahan                                                                             6
C.     Cara Kerja                                                                                   6

IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan                                                                         8
B.     Pembahasan                                                                                 8

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN







I.                   PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pada tahun 1770, Joseph Priestley seorang ahli kimia Inggris memperlihatkan bahwa tumbuhan mengeluarkan suatu gas yang dibutuhkan dalam pembakaran. Dia mendemonstrasikan hal ini dengan cara membakar lilin dalam suatu wadah tertutup sampai api mati. Lalu ia menyimpan setangkai tumbuhan mint dalam ruang tertutup itu dan dapat mempertahankan nyala api sampai beberapa hari. Meskipun Priestley tidak tahu jenis gas apa yang dikeluarkan tumbuhan, tetapi apa yang dilakukannya memperlihatkan bahwa tumbuhan menghasilkan oksigen ke udara.
 Pada tahun 1799, seorang dokter berkebangsaan Inggris bernama Jan Ingenhousz berhasil membuktikan bahwa proses fotosintesis menghasilkan oksigen (O2). la melakukan percobaan dengan tumbuhan air Hydrilla verticillata di bawah corong kaca bening terbalik yang dimasukkan ke dalam gelas kimia berisi air. Jika Hydrilla verticillata terkena cahaya matahari, maka akan timbul gelembung-gelembung gas yang akhirnya mengumpul di dasar tabung reaksi. Ternyata gas tersebut adalah oksigen. Beliau juga membuktikan bahwa cahaya berperan penting dalam proses fotosintesis dan hanya tumbuhan hijau yang dapat melepaskan oksigen.
 Pada tahun 1822 Engelmann berhasil membuktikan bahwa klorofil merupakan faktor yang harus ada dalam proses fotosintesis. la melakukan percobaan dengan ganggang hijau Spirogyra yang kloroplasnya berbentuk pita melingkar seperti spiral. Dalam percobaan tersebut ia mengamati bahwa hanya kloroplas yang terkena cahaya mataharilah yang mengeluarkan oksigen. Hal itu terbukti dari banyaknya bakteri aerob yang bergerombol di sekitar kloroplas yang terkena cahaya matahari.
 Pada tahun 1860, seorang ahli botani Jerman bernama Julius von Sachs berhasil membuktikan bahwa proses fotosintesis menghasilkan amilum (zat tepung). Adanya zat tepung ini dapat dibuktikan dengan uji yodium, sehingga percobaan Sachs ini juga disebut uji yodium.
 Theodore de Smussure, seorang ahli kimia dan fisiologi tumbuhan dari Swiss menunjukkan bahwa air diperlukan dalam proses fotosintesis. Temuan ini diteliti lebih lanjut sehingga pada tahun 1937 seorang dokter berkebangsaan Inggris bernama Robin Hill berhasil membuktikan bahwa cahaya matahari diperlukan untuk memecah air (H2O) menjadi hydrogen (H) dan oksigen (O2). Pemecahan ini disebut fotolisis.
Pada tahun 1905 Blackman membuktikan bahwa perubahan karbon dioksida (CO2) menjadi glukosa (C6H12O6) berlangsung tanpa bantuan cahaya matahari. Peristiwa ini sering disebut sebagai reduksi karbon dioksida. Dengan demikian dalam fotosintesis ada dua macam reaksi, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Yang merupakan reaksi terang (reaksi Hill) adalah fotolisis, yang merupakan reaksi gelap (reaksi Blackman) adalah reduksi karbon dioksida. Gabungan antara reaksi terang dan reaksi gelap itulah yang kita kenal sekarang sebagai reaksi fotosintesis. Pada tahun 1940 Melvin Calvin dan timnya berhasil menemukan urutan reaksi/proses yang berlangsung pada reaksi gelap. Rangkaian reaksi itu selalu berulang terus menerus dan disebut siklus Calvin.
Organisasi dan fungsi suatu sel hidup bergantung pada persediaan energi yang tak henti-hentinya. Sumber energi ini tersimpan dalam molekul-molekul organik seperti karbohidrat. Untuk tujuan praktis, satu-satunya sumber molekul bahan bakar yang menjadi tempat bergantung seluruh kehidupan adalah fotosintesis. Fotosintesis merupakan salah satu reaksi yang tergolong ke dalam reaksi anabolisme. Fotosintesis adalah proses pembentukan bahan makanan (glukosa) yang berbahan baku karbon dioksida dan air.
Fotosintesis hanya dapat dilakukan oleh tumbuhan dan ganggang hijau yang bersifat autotrof. Artinya, keduanya mampu menangkap energi matahari untuk menyintesis molekul-molekul organik kaya energi dari prekursor anorganik H2O dan CO2. Sementara itu, hewan dan manusia tergolong heterotrof, yaitu memerlukan suplai senyawa-senyawa organik dari lingkungan (tumbuhan) karena hewan dan manusia tidak dapat menyintesis karbohidrat. Karena itu, hewan dan manusia sangat bergantung pada organisme autotrof.
Fotosintesis terjadi di dalam kloroplas. Kloroplas merupakan organel plastida yang mengandung pigmen hijau daun (klorofil). Sel yang mengandung kloroplas terdapat pada mesofil daun tanaman, yaitu sel-sel jaringan tiang (palisade) dan sel-sel jaringan bunga karang (spons). Di dalam kloroplas terdapat klorofil pada protein integral membran tilakoid. Klorofil dapat dibedakan menjadi klorofil a dan klorofil b. Klorofil a merupakan pigmen hijau rumput (grass green pigment) yang mampu menyerap cahaya merah dan biru-keunguan. Klorofil a ini sangat berperan dalam reaksi gelap fotosintesis yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Klorofil b merupakan pigmen hijau kebiruan yang mampu menyerap cahaya biru dan merah kejinggaan. Klorofil b banyak terdapat pada tumbuhan, ganggang hijau, dan beberapa bakteri autotrof.
Selain klorofil, di dalam kloroplas juga terdapat pigmen karotenoid, antosianin, dan fikobilin. Karotenoid mampu menyerap cahaya biru kehijauan dan biru keunguan, dan memantulkan cahaya merah, kuning, dan jingga. Antosianin dan fikobilin merupakan pigmen merah dan biru. Antosianin banyak ditemukan pada bunga, sedangkan fikobilin banyak ditemukan pada kelompok ganggang merah dan Cyanobacteria.
Reaksi fotosintesis secara ringkas berlangsung sebagai berikut.
6CO2 + 6H2O ———-> C6H12O6 + 6O2
Seorang fisiologis berkebangsaan Inggris, F. F. Blackman, mengadakan percobaan dengan melakukan penyinaran secara terus-menerus pada tumbuhan Elodea. Ternyata, ada saat dimana laju fotosintesis tidak meningkat sejalan dengan meningkatnya penyinaran. Akhirnya, Blackman menarik kesimpulan bahwa paling tidak ada dua proses berlainan yang terlibat:
Suatu reaksi yang memerlukan cahaya
Reaksi yang tidak memerlukan cahaya
Yang terakhir dinamai reaksi gelap, walau dapat berlangsung terus saat keadaan terang. Blackman berteori bahwa pada intensitas cahaya sedang, reaksi terang membatasi atau melajukan seluruh proses. Dengan kata lain, pada intensitas ini reaksi gelap mampu menangani semua substansi intermediat yang dihasilkan reaksi cahaya. Akan tetapi, dengan meningkatnya intensitas cahaya pada akhirnya akan tercapai suatu titik dimana reaksi gelap berlangsung pada kapasitas maksimum.
Teori ini diperkuat dengan mengulangi percobaan pada temperatur yang agak lebih tinggi. Seperti diketahui, kebanyakan reaksi kimia berjalan lebih cepat pada suhu lebih tinggi (sampai suhu tertentu). Pada suhu 35°C, laju fotosintesis tidak menurun sampai ada intensitas cahaya yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi gelap kini berjalan lebih cepat. Faktor bahwa pada intensitas cahaya yang rendah laju fotosintesis itu tidak lebih besar pada 35°C dibandingkan pada 20°C juga menunjang gagasan bahwa yang menjadi pembatas pada proses ini adalah reaksi terang. Reaksi terang ini tidak tergantung pada suhu, tetapi hanya tergantung pada intensitas penyinaran. Laju fotosintesis yang meningkat dengan naiknya suhu tidak terjadi jika suplai CO2 terbatas. Jadi, konsentrasi CO2 harus ditambahkan sebagai faktor ketiga yang mengatur laju fotosintesis itu berlangsung
Berawal dari teori Aristoteles dan para filsuf dari Yunani 2000 tahun lalu yang menyatakan bahwa tumbuhan mengabsorbsi senyawa organik langsung dari tanah. Terinspirasi dari teori tersebut, pada tahun 1727 seorang pastor dan naturalis yang dipanggil sebagai Bapak Fisiologi Tumbuhan, Stephen Hales, menduga bahwa tumbuhan mendapatkan nutrisi dari udara dan sesuatu hal yang ajaib, mungkin cahaya masuk ke dalamnya. Sekedar informasi bahwa pada tahun itu ilmu kimia masih belum ada.
Tahun 1776, pencarian tentang fotosintesis dimulai. Joseph Priestly mempublikasikan tentang eksperimen dan observasi perbedaan macam-macam udara. Beliau salah satu perintis yang melakukan eksperimen tentang gas dan mungkin juga mempunyai peran dalam penemuan oksigen. Priestly memulai eksperimen pada tahun 1771, salah satunya adalah tentang “kontaminasi” udara dari nyala lilin terhadap keberlangsungan hidup tikus. Beliau juga menemukan bahwa udara yang terkontaminasi dapat diubah oleh tanaman.  Akan tetapi Priestly gagal mengungkapkan peran  cahaya dalam eksperimennya.
Eksperimen Priestly mendapat perhatian Jan Ingen-Housz, seorang fisikawan, dan telah berhasil mempublikasikan 500 eksperimen tentang pemurnian udara! Beliau menemukan bahwa  tumbuhan dapat memurnikan udara dalam hitungan jam, tetapi dengan syarat tumbuhan tersebut berwarna hijau dan harus didukung oleh cahaya matahari.
Priestly sependapat dengan Ingen-Housz dan pada tahun 1781 beliau melanjutkan eksperimennya lagi tentang cahaya dan tumbuhan hijau. Bersama Ingen-Housz, Priestly mengkonfirmasi dugaan Hales yang dibuat pada lebih dari 52 tahun lalu. Akhirnya melalui eksperimen-eksperimen tersebut berhasil mengungkapkan bahwa udara yang dimurnikan oleh tanaman itu adalah karbondioksida (CO2). Dari hasil penemuan tersebut, banyak ilmuwan, baik fisikawan ataupun kimiawan, sedikit demi sedikit mengungkapkan misteri proses fotosintesis. Di tahun 1782 Jean Senebier mempublikasikan tentang pemurnian udara oleh tumbuhan hijau, tahun 1785 Lavoisier dari Prancis mengidentikasi CO2, dan 1796 Ingen-Housz mengungkapkan bahwa CO2 adalah sumber karbon untuk tumbuhan. Yang menarik dari eksperimen ini adalah bukan “nutrisi tanaman” sebagai topik utama, akan tetapi tujuannya adalah pemurnian udara yang berkaitan tentang keberlangsungan mahluk hidup.
Penemuan lain yang tidak kalah pentingnya adalah seorang ahli kimia dari Geneva, N.T. de Saussure pertama kalinya mengungkapkan komponen yang mendekati fotosintesis. Beliau menyimpulkan bahwa air (H2O) dibutuhkan dalam proses pemurnian udara. Sehingga terbentuk proses :
CO2 + H2O  → O2 + senyawa organik
Pada masa itu belum diketahui bahwa senyawa organik yang dimaksud adalah glukosa (C6H12O6). Akhirnya seorang ahli bedah asal Jerman, Julius Mayer mengklarifikasi energi yang berhubungan dengan fotosintesis. Pada tahun 1845 beliau mengungkapkan bahwa energi yang digunakan oleh tumbuhan dan hewan dalam metabolisme mereka adalah turunan dari energi matahari yang ditransformasi  dalam fotosintesis (dari radiasi ke bentuk kimia). Dan pertengahan abad 19 outline tentang fotosintesis telah komplit. Meski sudah komplit, para ilmuwan masih berusaha mengungkapkan lebih detail tentang proses fotosintesis yang pendekatannya dengan mikroskop dan analisis radiochemical.



B. Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini adalah untuk :
1. Memahami proses fotosintesis pada tumbuhan berklorofil
2. Membuktikan fotosintesis tumbuhan serta faktor penghambat dan mempercepat proses fotosintesis pada tanaman hydrilla
3. Mengidentifikasi cara tumbuhan hijau membuat makanan



II.                TINJAUAN PUSTAKA

Kloroplas terdapat pada semua bagian tumbuhan yang berwarna hijau, termasuk batang dan buah yang belum matang. Di dalam kloroplas terdapatpigmen klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis. Kloroplas mempunyai bentuk seperti cakram dengan ruang yang disebut stroma. Stroma ini dibungkus oleh dua lapisan membran. Membran stroma ini disebut tilakoid, yang didalamnya terdapat ruang-ruang antar membran yang disebut lokuli. Di dalam stroma juga terdapat lamela-lamela yang bertumpuk-tumpuk membentuk grana (kumpulan granum). Granum sendiri terdiri atas membran tilakoid yang merupakan tempat terjadinya reaksi terang dan ruang tilakoid yang merupakan ruang di antara membran tilakoid. Bila sebuah granum disayat maka akan dijumpai beberapa komponen seperti protein, klorofil a, klorofil b, karetonoid, dan lipid. Secara keseluruhan, stroma berisi protein, enzim, DNA, RNA, gula fosfat, ribosom, vitamin-vitamin, dan juga ion-ion logam seperti mangan (Mn), besi (Fe), maupun tembaga (Cu). Pigmen fotosintetik terdapat padamembran tilakoid. Sedangkan, pengubahan energi cahaya menjadi energi kimia berlangsung dalam tilakoid dengan produk akhir berupa glukosa yang dibentuk di dalam stroma. Klorofil sendiri sebenarnya hanya merupakan sebagian dari perangkat dalam fotosintesis yang dikenal sebagai fotosistem (AnonimA, 2012).
Fotosistem adalah suatu unit yang mampu menangkap energi cahaya Matahari yang terdiri dari klorofil a, kompleks antena, dan akseptor elektron. Di dalam kloroplas terdapat beberapa macam klorofil dan pigmen lain, seperti klorofil a yang berwarna hijau muda, klorofil b berwarna hijau tua, dan karoten yang berwarna kuning sampai jingga.Pigmen-pigmen tersebut mengelompok dalam membran tilakoid dan membentuk perangkat pigmen yang berperan penting dalam fotosintesis. Tumbuhan bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat mensintesis makanan langsung dari senyawa anorganik. Tumbuhan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula danoksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari fotosintesis. Berikut ini adalah persamaan reaksi fotosintesis yang menghasilkan glukosa:
6H2O + 6CO2 + cahaya ? C6H12O6 (glukosa) + 6O2
Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini berlangsung melalui respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan. Secara umum reaksi yang terjadi pada respirasi seluler berkebalikan dengan persamaan di atas. Pada respirasi, gula (glukosa) dan senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi kimia (AnonimB, 2012).

Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil. Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat dalam organel yang disebut kloroplas.klorofil menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis. Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian besar energi dihasilkan di daun. Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta kloroplas setiap milimeter perseginya. Cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan yang transparan, menuju mesofil, tempat terjadinya sebagian besar proses fotosintesis. Permukaan daun biasanya dilapisi oleh kutikula dari lilin yang bersifat anti air untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar Matahari ataupun penguapan air yang berlebihan (Soenaryo, 1999).

Fotosintesis berasal dari kata foton yang berarti cahaya, dan sintesis yang berarti menyusun. Jadi fotosintesis dapat diartikan sebagai suatu penyusunan senyawa kimia kompleks yang memerlukan energi cahaya. Sumber energi cahaya alami adalah matahari. Proses ini dapat berlangsung karena adanya suatu pigmen tertentu dengan bahan CO2 dan H2O. Cahaya matahari terdiri atas beberapa spektrum, masing-masing spektrum mempunyai panjang gelombang berbeda, sehingga pengaruhnya terhadap proses fotosintesis juga berbeda (Salisbury, 1995).

Fotosintesis merupakan suatu proses biologi yang kompleks, proses ini menggunakan energi dan cahaya matahari yang dapat dimanfaatkan oleh klorofil yang terdapat dalam kloroplas. Seperti halnya mitokondria, kloroplas mempunyai membran luar dan membran dalam. Membran dalam mengelilingi suatu stroma yang mengandung enzim-enzim tang larut dalam struktur membran yang disebut tilakoid. Proses fotosintesis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain air (H2O), konsentrasi CO2, suhu, umur daun, translokasi karbohidrat, dan cahaya (Syamsuri, 2003).



III.             METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat

            Pada penelitian kali ini kita melakukan penelitian pada hari Selasa, 20 Nopember 2012 di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Umum Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.


B. Alat dan Bahan

            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah Gelas kimia, Tabung  reaksi, Corong, Kawat penyangga, Stopwatch, Termometer, Air, NaHCO3, Hydrilla


C. Cara Kerja

1.Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Memasukkan 2 potongan tanaman hydrilla ke dalam corong. Diusahakan agar tanaman hydrilla tidak keluar dari corong.
3. Menutup bagian tabung corong dengan tabung reaksi.
4. Memasukkan tiga kawat penyangga ke dalam gelas kimia untuk menjaga keseimbangan dari corong yang telah diisi dengan hydrilla. Sebaiknya, jarak antara bawah corong dengan dasar gelas kimia tidak terlalu jauh, sekitar 0,5 cm.
5. Memasukkan gelas kimia ke dalam waskom yang berisi air, diikuti dengan memasukkan corong yang di dalamnya berisi tanaman hydrilla ke dalam gelas kimia tersebut. Selanjutnya tutup bagian tabung corong dengan tabung reaksi. Sebaiknya semua bagian tabung reaksi berisi air, sehingga tidak ada ruang udara.
6. Mengulangi langkah 3 sampai 5 untuk 3 corong berikutnya.7. Menandai masing-masing gelas kimia sebagai gelas kimia 1, 2, 3, dan 4.
8. Meletakkan gelas kimia pertama di tempat yang teduh.
9. Meletakkan gelas kimia kedua, ketiga dan keempat di tempat yang terbuka (terkena sinar matahari langsung).
10. Mengukur suhu awal masing-masing gelas kimia.
11. Menunggu hingga muncul gelembung-gelembung udara yang tampak pada tabung reaksi.
12. Menuangkan larutan NaHCO3 secukupnya pada gelas kimia nomor 3.
13. Menuangkan beberapa bongkahan es batu pada gelas kimia nomor 4.
14. Mengamati dan mencatat banyaknya gelembung yang muncul lalu memasukkan data ke tabel.
15. Setelah banyak rongga udara yang terbentuk di tabung reaksi. Tabung reaksi diangkat.


IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan
No
Selang waktu
Gelembung di tempet terang
Gelembung di tempat gelap
1
5 menit
+
+
2
10 menit
+
+
3
15 menit
+
++
4
20menit
+
++



B. Pembahasan

Dari pengamatan yang dilakukan, dari keempat percobaan tentang pengujian fotosintesis tumbuhan dengan mengkondisikan setiap percobaan dengan kondisi yang berbeda diperoleh :
Pada bejana A diletakkan ditempat gelap, nampak tidak terdapat gelembung yang menunjukkan tidak terjadi fotosintesis. Dan pada bejana B yang ditempat terang, terdapat gelembung dan menunjukan ada reaksi fotosintesis, dan pada bejana C yang awalnya dikondisikan seperti bejana B, dan beberapa saat kemudian ditambahkan NaHCO3, selang beberapa detik gelembungnya semakin bertambah, hal ini menunjukkan bahwa NaHCO3 dapat membantu laju reaksi fotosintesis tanaman. Penambahan NaHCO3 memperbanyak gelembungnya karena ketika NaHCO3 berikatan dengan H2O menghasilkan CO2 :


NaHCO3 Na+ + HCO3-
HCO3- H2O + CO3

CO2 dibutuhkan dalam reaksi fotosintesis sebagai bahan utama , yang reaksinya :
6CO2 + 6H2O + sinar matahari dan klorofil ----> 6C6H12O6 + 6O2
Pada bejanana D yang dikondisikan sama seperti bejana B dan selang beberapa detik muncul gelembung, dan ketika keluar gelembung ditambahkan es batu pada bejana dan terjadi perubahan selang berapa detik gelembung- gelembung tersebut menghilang,es batu merupan katalisis yang dapat memperlambat laju reaksi, dalam hal ini laju fotosintesis ketika ditambahkan es batu kedalam bejana maka suhu berubah dan semakin dingin, sehingga enzim yang membantu fotosintesis tidak dapat bekerja maksimum dan dapat menghentikan proses fotosintesis.
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa Cahaya matahari langsung intensitasnya lebih tinggi dari pada yang tidak langsung. Hal ini akan memepengaruhi jumlah gelembung gas yang dihasilkan pada fotosintesis tumbuhan Hydrilla. Kegiatan fotosintesis dapat diukur dengan menghitung jumlah gelembung gas yang dihasilkan dari bagian tumbuhan. Dari pengukuran banyaknya gas yang dihasilkan akan terlihat bahwa laju produksi gas meningkat bila intensitas cahaya meningkat. Gelembung gas yang dihasilkan pada peristiwa fotosintesis adalah oksigen. Selain cahaya matahari, cahaya lampu, dan cahaya warna tertentu dapat merangsang dihasilkannya gelembung gas. Warna nila dan merah dari cahaya lampu dapat mempercepat penghasilan gas. Oleh karena itu, umumnya akuarium dilengkapi dengan lampu ungu agar tumbuhan didalamnya menghasilkan gelembung gas.
  


V.                KESIMPULAN

            Setelah melakukan penelitian maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Fotosintesis membutuhkan cahaya yang cukup
2. Laju fotoosintesis dapat dipengaruhi oleh banyaknya karbon dioksida
3. Fotosintesis membutuhkan suhu yang optimum, karena enzim- enzim yang membantu proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu tertentu antara 300c - 400c.



DAFTAR PUSTAKA

AnonimA.2012.Fotosintesis.hhtp://id.wikipedia.org/wiki/respirasi: Diakses pada 20 Nopember 2012.

AnonimB.2012.Pengertian Fotosintesis.hhtp://id.wikipedia.org/wiki/respirasi: Diakses pada 20 Nopember 2012.

Salisbury. 1995. Biologi. Jakarta: Erlangga

Soenaryo.1999.Anatomi dan Fisiologi Makhluk Hidup.Malang: MSREP-SKA.

Syamsuri. 2003. Biologi Jilid 2B untuk SMA Kelas IX Semester 2. Jakarta : Erlangga.
Read More ->>

Selasa, 01 Oktober 2013

PROSES SOSIAL DALAM BUDAYA DI CIREBON

PROSES SOSIAL DALAM BUDAYA DI CIREBON

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada.  Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hokum.  Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.  Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak.  Interaksi sosial tak akan mungkin terjadi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud.  Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :
1.      Imitasi
Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.

2.      Sugesti
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.



3.      Identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.  Identifikasi sifatnya lebih mendalam dari pada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.

4.      Simpati
Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.  Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walau pun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.

Interaksi merupakan hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, ada aksi dan ada reaksi, pelakunya lebih dari satu, individu dan individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompok dan lain-lain.  Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.  Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.  Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan.  Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki makna yang berbeda.  Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.  Arti lain dari budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.  Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa interaksi budaya adalah sebuah proses saling mempengaruhi suatu cara hidup yang berkembang di suatu kelompok manusia dan memiliki efek satu sama lain.  Berikut adalah contoh-contoh interaksi dalam budaya :
 1. Kerja Sama
Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan.
Contoh: Gotong royong yang dilakukan di suatu desa untuk membangun rumah salah satu warga.

2. Akomodasi
Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa cara menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiaanya.
Contoh: PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) membantu penyelesaiannya dua negara yang sedang berselisih.

3. Asimilasi
Proses asimilasi di tandai dengan usaha dari orang atau kelompok manusia untuk mengurangi perbedaan-perbedaan yang ada. perberdaan-perbedaan tersebut dapat berupa sikap, tindakan, perasaan, dan budaya. Hasil asimilasi menyebabkan semakin tipisnya batas perbedaan antara dua individu dalam satu kelompok maupun batas-batas perbedaan antar kelompok.
Contoh: Pasangan suami istri, istri bersuku jawa sedangkan suami bersuku Sumatra, maka lambat laun mereka akan membentuk budaya bari dimana keduanya melebur.

4. Akulturasi
Akulturasi adalah dua kebudayaan yang hidup berdampingan secara damai.  Hal ini terjadi karena dalam asimilasi terdapat proses penerimaan dan pengalihan unsur-unsur kebudayaan suatu kelompok lain dengan tidak mengilangkan ciri budaya dari masing-masing kelompok.
Contoh: Pertemuan antara kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam di  Indonesia menghasilkan kebudayaan Islam yang bercorak Hindu.


Salah satu bentuk/ contoh dari interaksi asimilasi dan akulturasi budaya dapat dilihat di salah kota besar di Jawa Barat yaitu Cirebon.  Di Cirebon masih terdapat cukup banyak bangunan-bangunan yang merupakan hasil peninggalan masa lampau yang trpelihara dengan baik hingga saat ini, sebagai bentuk interaksi dari akulturasi budaya yang dituang ke dalam karya seni bangunan yang indah yaitu arsitektur.  Salah satunya dapat dilihat di Keraton Kasepuhan yang merupakan peninggalan sejarah Kota Cirebon yang masih berdiri kokoh hingga kini, keraton yang terletak di tengah Kota Cirebon yaitu tepatnya di Jalan Keraton Kasepuhan no 43.  Dalam keraton ini banyak terdapat nuansa akulturasi antara budaya Jawa, Sunda bahkan Cina dan Eropa.  Hal ini dapat dilihat dari ornamen-ornamen yang terdapat di dalam keraton mulai dari porselain-porselain Cina, lampu-lampu hias dari Eropa dan juga keramik-keramik yang melukiskan gambar-gambar tentang tokoh dalam Alkitab.  Bila melihat keluar, terdapat gerbang yang menyerupai pura di Bali, ukiran daun pintu gapuranya yang bergaya Eropa, pagar Siti Hingilnya dari keramik Cina, dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa yang merupakan bukti lain terjadinya proses akulturasi.  Nuansa akulturasi semakin nyata bila memasuki ruang depannya yang sekarang berfungsi sebagai museum.  Di dalam museum terdapat benda-benda peningggalan kerajaan seperti peralatan perang, meriam, dan kereta kencana yang digunakan saat berperang.  Kereta ini disebut kereta singa barong, berkepala gajah yang belalainya memegang trisula yang merupakan pengaruh Hindu.  Sedangkan singgasana raja yang terbuat dari kayu sederhana dengan latar 9 warna bendera yang melambangkan Wali Songo.  Hal ini membuktikan bahwa Kesultanan Cirebon juga terpengaruh oleh budaya Jawa dengan Agama Islam dan budaya luar dengan agama Hindu.  Keraton Kasepuhan kian mengukuhkan bahwa di Kota Cirebon pernah terjadi akulturasi.  Akulturasi yang terjadi bukan hanya antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Sunda tetapi juga dengan berbagai kebudayaan di dunia seperti Cina, India, Arab, dan Eropa. Hal inilah yang membentuk identitas dan tipikal masyarakat sekarang ini yang bukan Jawa dan bukan Sunda, namun merupakan gabungan dari kedua suku tersebut.  Sehingga Cirebon memiliki budaya baru yang merupakan akulturasi dari suku Jawa dan suku Sunda yang telah melebur, dan berbagai kebudayaan luar yang menjadi satu padu dalam budaya baru namun tetap mempertahankan ciri khas masing-masing budayanya.  Jika meninjau dari bahasa di Cirebon yang merupakan asimilasi atau hasil peleburan dari bahasa Jawa dan bahasa Sunda yang membentuk bahasa sendiri dan kini menjadi ciri khas dari bahasa Cirebon itu sendiri.  Hal-hal tersebut semakin menguatkan asumsi bahwa di Kota Cirebon telah terjadi proses asimilasi yang merupakan hasil dari interaksi budaya yang lokasinya berdekatan dengan Kota Cirebon tersebut.
Read More ->>

Teks Asli Lagu Indonesia Raya

Indonesia Raja

Indonesia tanah airkoe tanah toempah darahkoe
disanalah akoe berdiri djadi pandoe iboekoe
Indonesia kebangsaankoe bangsa dan tanah airkoe
marilah kita berseru Indonesia bersatoe
hiduplah tanahkoe hiduplah negrikoe
bangsakoe, ra'jatkoe, sem'wanja
bangoenlah jiwanja bangoenlah badanja
oentoek Indonesia raja
Indonesia raja merdeka merdeka tanahkoe negrikoe jang koecinta
Indonesia raja merdeka merdeka hidoeplah Indonesia raja
Indonesia tanah jang moelya tanah kita jang kaja
disanalah akoe berdiri oentoek s'lama lamanja
Indonesia tanah poesaka p'saka kita semoeanja
marilah kita mendo'a Indonesia bahagia
soeboerlah tanahnja soeboerlah djiwanja
bangsanja, ra'jatnja, sem'wanja
sadarlah hatinja sadarlah boedinja
oentoek indonesia raja
Indonesia raja merdeka merdeka tanahkoe negrikoe jang koecinta
Indonesia raja merdeka merdeka hidoeplah Indonesia raja
Indonesia tanah jang soetji tanah kita jang sakti
disanalah akoe berdiri kodjaga iboe sedjati
Indonesia tanah berseri tanah jang akoe sajangi
marilah kita berdjandji Indonesia abadi
s'matlah ra'jatnja s'matlah poetranja
poelanja, laotnja sem'wanja
madjoelah neg'rinja madjoelah pandoenja
oentoek indonesia raja
Indonesia raja merdeka merdeka tanahkoe negrikoe jang koecinta
Indonesia raja merdeka merdeka hidoeplah Indonesia raja
Indonesia raja merdeka merdeka tanahkoe negrikoe jang koecinta

Indonesia raja merdeka merdeka hidoeplah Indonesia raja
Read More ->>

PENGENALAN ORDO ORTHOPTERA


BAB  I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Ordo Orthoptera termasuk dalam kelas Insekta(serangga). Serangga merupakan hewan yang dominan di bumi ini, terdapat dimana-mana baik di darat maupun dalam air.Dominasi dari serangga tersebut disebabkan karena serangga mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya. Selain itu serangga memiliki waktu generasi yang singkat dan berukuran kecil. Serangga terdiri atas ratusan ribu jenis, bentuknya sangat bervariasi, ukurannya bermacam-macam mulai mulai dari yang mikroskopis sampai yang makroskopis. 
Dilihat dari kepentingannya bagi manusia, serangga ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Manusia memperoleh manfaat dari serangga dengan banyak cara seperti dihasilkannya madu, sutera, buah dan banyak produk lainnya dari hasil penyerbukan tumbuhan yang dibantu oleh serangga. Sebaliknya, banyak serangga yang berbahaya atau sebagai hama perusak. Serangga selain merusak tanaman pertanian bisa pula merusak harta benda manusia, termasuk rumah, pakaian, persediaan makanan, menghancurkan dan mencemarinya.
Ordo Orthoptera (serangga bersayap lurus) Ciri-ciri ordo Orthoptera:
Memiliki satu pasang sayap, sayap depan lebih tebal dan sempit disebut tegmina. Sayap belakang tipis berupa selaput. Sayap digunakan sebagai penggerak pada waktu terbang, setelah meloncat dengan tungkai belakangnya yang lebih kuat dan besar.Hewan jantan mengerik dengan menggunakan tungkai belakangnya pada ujung sayap depan, untuk menarik betina atau mengusir saingannya. Hewan betinanya mempunyai ovipositor pendek dan dapat digunakan untuk meletakkan telur. Tipe mulutnya menggigit. Contoh dari Orthoptera:
 - Belalang (Dissostura sp)                                                
- Belalang ranting (Bactrocoderma aculiferum)
- Belalang sembah (Stagmomantis sp)
- Kecoak (Blatta orientalis)
- Gangsir tanah (Gryllotalpa sp)
- Jangkrik (Gryllus sp)

Ordo Orthoptera kalau dahulu orang lebih cenderung melihat kerusakan yang ditimbulkannya tetapi sekarang hewan jenis ini lebih dilirik karena manfaat yang dapat diambil sebagai salah satu sumber protein hewan, pakan hewan ternak,yang telah diteliti kandungan gizinya,sebagai obat dan bahkan sudah dicoba melakukan penelitian untuk dijadikan sebagai hewan yang dapat mendeteksi adanya bom. Untuk itulah penulis membahas tentang Ordo Orthoptera.

1.2  Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1)      Mengetahui jenis hewan yang termasuk ordo Orthoptera
2)      Mengetahui struktur tubuh dari ordo Orthoptera
3)      Mengetahui peranan ordo Orthoptera dalam kehidupan



BAB II

ISI

Ordo Orthoptera merupakan satu kumpulan serangga –serangga yang agak bervariasi, banyak dari serangga tersebut sangat umum dan sangat terkenal, Kebanyakan dari mereka adalah pemakan tumbuh-tumbuhan, dan beberapa dari serangga ini adalah hama-hama yang penting pada tanaman budidaya. Beberapa adalah pemangsa, sedikit sebagai pemakan bahan organik yang membusuk dan beberapa lagi sebagai omnivor.
1.        Karakteristik Ordo Orthoptera
a.    Memilki dua pasang sayap.Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/ mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.
b.    Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet,   sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
c.    Mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.
d.   Metamorfosis tidak sempurna (hemimetabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur —> nimfa —> dewasa (imago). Tidak memiiki fase pupa dan larva, telur menetas langsung menjadi nimfa.
e.    Pada umumnya merupakan serangga pemakan tumbuh-tumbuhan, beberapa serangga ada yang bersifat predator atau pemangsa  dan ada juga yang omnivora.
f.     Memiliki bentuk tubuh panjang dan tungkai (femur) membesar yang teradaptasi untuk meloncat, antenna berbentuk benang
g.    Hidup pada berbagai habitat diantaranya pada kanopi atau tajuk pohon belukar dan lahan pertanian.

2.        Sistem Transpor
Belalang yang merupakan contoh dari Ordo Orthoptera mempunyai alat transportasi berupa jantung pembuluh. Pada bagian jantung pembuluh terdapat lubang-lubang kecil (ostium) yang mempunyai katup. Pada waktu jantung pembuluh berdenyut ostium tertutup, darah mengalir ke depan melalui aorta.Peredaran darah belalang hanya mengedarkan sari makanan dan mengambil sisa metabolisme. Sedangkan pengedaran oksigen ke seluruh tubuh dan pengambilan karbon dioksida dilakukan melalui sistem trakea.

3.        Sistem Pernafasan
Corong hawa (trakea) adalah alat pernapasan yang dimiliki oleh serangga dan arthropoda lainnya. Pembuluh trakea bermuara pada lubang kecil yang ada di kerangka luar (eksoskeleton) yang disebut spirakel. Spirakel berbentuk pembuluh silindris yang berlapis zat kitin, dan terletak berpasangan pada setiap segmen tubuh. Spirakel mempunyai katup yang dikontrol oleh otot sehingga membuka dan menutupnya spirakel terjadi secara teratur.Pada umumnya spirakel terbuka selama serangga terbang, dan tertutup saat serangga beristirahat.
 Oksigen dari luar masuk lewat spirakel. Kemudian udara dari spirakel menuju pembuluh-pembuluh trakea dan selanjutnya pembuluh trakea bercabang lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus sehingga dapat mencapai seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam. Trakeolus tidak berlapis kitin, berisi cairan, dan dibentuk oleh sel yang disebut trakeoblas. Pertukaran gas terjadi antara trakeolus dengan sel-sel tubuh. Trakeolus ini mempunyai fungsi yang sama dengan kapiler pada sistem pengangkutan (transportasi) pada vertebrata.
Mekanisme pernapasan pada serangga, misalnya belalang, adalah sebagai berikut :Jika otot perut belalang berkontraksi maka trakea mexrupih sehingga udara kaya COZ keluar. Sebaliknya, jika otot perut belalang berelaksasi maka trakea kembali pada volume semula sehingga tekanan udara menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sebagai akibatnya udara di luar yang kaya 02 masuk ke trakea.
Sistem trakea berfungsi mengangkut O2 dan mengedarkannya ke seluruh tubuh, dan sebaliknya mengangkut C02 basil respirasi untuk dikeluarkan dari tubuh. Dengan demikian, darah pada serangga hanya berfungsi mengangkut sari makanan dan bukan untuk mengangkut gas pernapasan.



4.        Sistem Ekskresi
Alat ekskresi pada belalang adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh Malphigi berupa kumpulan benang halus yang berwarna putih kekuningan dan pangkalnya melekat pada pangkal dinding usus. Di samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata.
Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di dalam tubuhnya. Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang disebut asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut.
Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah dan usus belakang. Darah mengalir lewat pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak lewat bagian proksimal pembuluh Malpighi, bahan yang mengandung nitrogen diendapkan sebagai asam urat, sedangkan air dan berbagai garam diserap kembali biasanya secara osmosis dan transpor aktif. Asam urat dan sisa air masuk ke usus halus, dan sisa air akan diserap lagi. Kristal asam urat dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan feses.

5.        Sistem Saraf
   Pada belalang terlihat susunan saraf tangga tali dari simpul saraf yang disebut ganglia (jamak dari ganglion).Ganglion merupakan pusat peogolah rangsang.    Ada 3 macam ganglion :
a.         Ganglion kepala, menerima urat saraf yang berasal dari mata dan antena.
b.         Ganglion di bawah kerongkongan, mengkoordinasi aktivitas sensoris dan motoris rahang bawah (mandibula), rahang atas (maksila), dan bibir bawah (labium).
c.         Ganglion ruas-ruas badan berupa serabut-serabut saraf yang menuju ruas-ruas dada,perut,dan alat-alat tubuhyangberdekatan.

Ganglion bawah kerongkongan dan ganglion ruas-ruas badan terletak dibawah saluran pencernaan.Pada serangga terdapat 2 benang saraf yang membentang sejajar sepanjang tubuhnya dan menghubungkan ganglion satu dengan ganglion yang lain.
                       


6.        Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan makanan pada belalang terjadi di mulut, kerongkongan, lambung depan, lambung otot, lambung kelenjar, usus dan anus (dubur). Makanan dicerna secara mekanis di lambung otot dan secara kimiawi di lambung kelenjar.

7.        Sistem reproduksi
Hemimetabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Ordo Orthoptera temasuk Hemimetabola. Dalam daur hidupnya Hemimetabola, serangga mengalami tahapan perkembangan sebagai berikut:
1.   Telur
2.   Nimfa, ialah serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Dalam fase ini serangga muda mengalami pergantian kulit.
3.   Imago (dewasa), ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya.

8.        Klasifikasi Ordo Orthoptera
       Ordo Orthoptera terbagi dalam dua subordo:
a.        Subordo Caelifera
Mempunyai antenna pendek, tarsi  memiliki dua atau lebih sedikit ruas, timpanum bila ada, terletak pada sisi-sisi ruas abdomen yang pertama.
      Memiliki dua familia yaitu:
1)      Familia Acrididae
Disebut juga belalang bersungut panjang (long-horned grasshoper) karena memiliki antenna lebih pendek dari panjang tubuhnya, tarsus 3 ruas, ovipositor pendek, dan alat pendengar (tympanum) terdapat pada sebelah sisi dari ruas abdomen pertama. Kaki belakang lebih panjang dibandingkan dengan kaki tengah dan kaki depannya. Kaki belakang berfungsi untuk meloncat. Belalang jantan pada siang hari dapat mengeluarkan bunyi dengan cara menggesekkan femur kaki belakang dengan sisi bawah dari sayap depan karena pada sisi dalam dari femur kaki belakang terdapat semacam duri-duri atau dengan cara menggesekkan sisi depan dari sayap belakang dengan sisi belakang dari sayap depan. Serangga yang termasuk Acrididae pemakan tumbuh-tumbuhan atau herbivora.
Contohnya :Locusta migratoria , Valanga nigricornis


b.      Subordo Ensifera
Mempunyai antenna panjang dengan 3 atau 4 ruas, tmpana bila ada terletak pada ujung atas tibia depan. Ovipositor panjang berbentuk seperti pedang atau selindris.

Memiliki 5 familia yaitu:
1)      Familia Tettigoniidae
Disebut juga belalang bersungut panjang (long-horned grasshoper) karena mempunyai antenna panjang menyerupai rambut. Ada yang tidak bersayap. Jika mempunyai sayap, sayap depan sebelah kiri biasanya menutupi tepi sayap depan sebelah kanan. Biasanya sayap berwarna hijau. Serangga jantan dapat mengeluarkan bunyi dengan cara menggesekkan sayap depan sesamanya. Serangga ini aktif dimalam hari. Tarsus beruas 4, jika mempunyai alat pendengar maka alat pendengar tersebut terdapat pada dasar tibia kaki depan. Serangga betina memiliki ovipositor yang panjang, bentuknya pipih seperti pedang, sehingga serangga ini sering disebut belalang pedang. Contoh: Tettigonia viridissima dan Microcentrum rhombifolium.

2)      Familia Gryllidae
Dalam familia ini tergolong beberapa jenis jangkrik. Serangga ini mempunyai antenna yang panjang, tarsus tidak lebih dari 3 ruas, mempunyai sepasang cercus yang panjang tidak beruas-ruas, ovipositor bentuknya silindris atau menyerupai jarum. Serangga jantan dapat menghasilkan bunyi dengan cara menggesekan sayap depan sesamanya dan serangga ini aktif malam hari.
Contohnya :, Brchytrypes megacephalus dan Gryllus mitratus

3)      Familia Gryllotalpidae
Contonya: Gryllotalpa hexadactyla
Berwarna kecoklatan, kaki depan sangat melebar dan kuat dan dapat digunakan untuk menggali. Mata tereduksi, ovipositor hilang, ada yang bersayap, ada yang bersayap kerdil dan ada juga yang tidak bersayap. Serangga ini hidup didalam lubang pada tanah yang lembab.

4)      Familia Mantidae
Jenis serangga yang termasuk Mantidae isebut belalang sembah, berupa serangga dengan ukuran sedang sampai besr. Bentuk tubuhnya memanjang dan gerakkannya sangat lamban. Kepala kecil berbentuk segitiga dan dapat bergerak dengan bebas,  mempunyai mata majemuk yang besar. Protoraks memanjang, kaki depan banyak mengalami perubahan dan berfungsi untuk menangkap mangsa yang berupa serangga.
Contoh : Mantis religiosa (belalang sembah)

5)      Familia Blattidae
Terdiri atas serangga yang tergolong keco. Bentuk tubuhnya lonjong dan pipih. Pronotum besar sehingga menutupi kepala, mempunyai antenna yang panjang. Seranggga ini banyak terdapat di rumah, menyenangi tempat yang gelap dan makan berbagai jenis makanan.
Contoh : Blatta orientalis dan Periplaneta Americana

9, Manfaat Ordo Orthoptera
A. Belalang.
Belalang kayu (Melanoplus cinereus) adalah serangga berwarna hijau atau coklat berkaki belakang lebih panjang yang dipakai untuk loncat yang termasuk ordo OrthopteraBelalang sudah lama dikenal oleh manusia sebagai santapan yang lezat, memberikan cita rasa nutty flavor bila di bakar dan ditambah garam. Seratus gram belalang dewasa mengandung protein 23.6 gram, lemak 6.1 gram, calsium 35.2 miligram dan 5 miligram besi. Menurut Entomological Society of Americabelalang merupakan sumber protein yang lebih baik dibandingkan sapi, ayam,  ataupun babi. Dan yang tidak kalah pentingnyabelalang mempunyai kadar kolesterol dan lemak yang sangat rendah. Jadi tidak perlu merasa was was terkena sakit jantung.
            Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh  Kusmaryani (2005), kadarprotein tepung belalang kayu (Melanoplus cinereus) lebih tinggi dibanding tepung udang windu (Panaeneous monodon) dengan kadar masing-masing 17,922 dan 9,846 persen. Beberapa bahan dasar makanan yang merupakan sumber protein juga dapat dibuat tepung. Sebagai bahan baku berbagai olahan makanan, tepung memiliki beberapa keistimewaan, antara lain rasa yang sama dengan bahan dasar pembuatnya, dapat disimpan lama dan praktis dalam penggunaannya.
Belalang adalah binatang serangga yang bagi banyak orang lebih sering di cap sebagai hama dan bukan bahan makanan bergizi apalagi berprotein. Bahkan di beberapa daerah, mengkonsumsi belalang lebih identik dengan kemiskinan rakyat di daerah tandus dan kering. Di beberapa negara, seperti  Zimbabwe dan Etiopia belalang sudah menjadi makanan rakyat dengan mengolahnya menjadi tepung sebagai bahan kue karena rasanya yang mirip dengan udang. Bahkan bagi banyak warga di negara Afrika, belalang termasuk serangga yang penting sebagai sumber protein.
Belalang termasuk jenis hama yang banyak merusak tanaman, karena ludahnya mengandung racun yang dapat merusak dedaunan. Belalang termasuk hewan yang halal bagi umat Islam. Imam Bukhari dalam sebuah hadistnya meriwayatkan bahwa Ibn Abi Awfi erkata, ”Kami melakukan tujuh kali penerangan bersama Nabi SAW. Ketika itu kami makan belalang sepanjang jalan.” Sahabat Umar RA berkata: ” Nabi SAW pernah mengungkapkan keinginanya untuk makan belalang panggang.” Bahkan istri nabi SAW, keluarga dan para sahabatnya biasa saling memberi hadiah belalang (Ash Marlyna, 2002).
Belalang biasa dimanfaatkan menjadi lauk-pauk bagi warga yang tinggal di daerah kering, seperti Gunung Kidul. Namun tidak semua orang bisa mengkonsumsinya karena alergi (gatal-gatal). Belalang darat biasa mencari tempat yang keras dan memukul-mukulkan ekornya jika akan bertelor. Telurnya berkhasiat untuk mengobati jerawat. Belalang bersifat panas dan kering, konsumsi dalam jumlah banyak dapat melangsingkan tubuh. Belalang juga mempunyai khasiat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti sakit kuning, sesak nafas karena batuk, setip/kejang dan infeksi sumsum tulang. Untuk mengobati sakit kuning, dilakukan dengan menghirup asap pembakaran sepuluh ekor belalang. Sesak nafas karena batuk dapat diobati dengan mengkonsumsi ramuan tepung belalang (5 ekor) yangg dicampur   dengan 1 sendok makan arak manis,  setiap pagi dan sore ( Sri Haryanto, 2005).

B.      Kecoak
Bagi sebagian besar orang, kecoa dianggap sebagai indikator ketidakbersihan suatu tempat. Maka tak heran jika kecoa dianggap binatang yang menjijikan. Kalaupun ada yang mencari dan ber(usaha menjadi)sahabat dengan mereka hanyalah para peneliti yang berkepentingan menelaah lebih jauh dari serangga tersebut.
Kecoa merupakan serangga tingkat tinggi yang memiliki struktur syaraf hampir sama dengan lebah madu (Departemen Pertahanan Amerika Serikat berhasil memanfaatkan lebah madu untuk mendeteksi keberadaan bom). Selain itu kecoa juga memiliki susunan syaraf yang lebih kompleks dan kemampuan memori yang lebih. Karena itulah kecoa bisa dilatih untuk mendeteksi bom layaknya anjing yang sudah lazim dipergunakan selama ini.Mekanisme kecoa dalam mendeteksi bom yang meliputi sifat fisiologis dan morfologis dilakukan dengan merespon balik terhadap rangsangan berupa bom atau bahan peledak yang diolah oleh organ olfaktory (pembau). Rangsangan akan ditangkap sel sensorik dan diteruskan melalui sel motorik melalui ganglion-ganglion menuju mushroom body dan diproses diotak untuk selanjutnya direspon.Bagian tubuh yang peka terhadap rangsangan khususnya bahan kimia adalah antena, cerci (abdomen belakang) dan maksila (bagian mulut). Dari ketiga bagian tubuh tersebut, antena yang memiliki kepekaan paling tinggi terhadap partikel kimiawi yang terlepas diudara dari bahan yang ada di bom. Adanya bom bisa diketahui dari gerakan antenanya.( muchyidin-seputarkita.blogspot.com/2009)
Kecoa sering dianggap sebagai biangnya kuman penyakit. Padahal serangga yang sebetulnya justru sangat higienis ini ternyata mengandung senyawa kimia yang ampuh membasmi kuman-kuman super (superbugs).Dikutip dari Telegraph, Minggu (5/9/2010), para ahli dari Nottingham University mengungkap bahwa kecoa mempunyai lebih banyak manfaat dibanding risiko kesehatan. Penelitian terbaru di kampus tersebut membuktikan bahwa serangga ini mengandung senyawa mematikan untuk membunuh bakteri.Sampel jaringan yang diambil dari otak dan sistem syaraf kecoa menunjukkan sedikitnya ada 9 kandungan senyawa yang bersifat toksik atau beracun bagi bakteri. Senyawa itu bahkan diklaim mampu membunuh hingga 90 persen bakteri super termasuk Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Escherichia coli.Bakter-bakteri super itu tengah menjadi ancaman serius bagi dunia kesehatan pada umumnya, sebab kemampuan bermutasi membuatnya makin kebal terhadap antibiotik yang ada saat itu. Padahal pengembangan antibiotik baru tidak selalu mudah, sebab kadang-kadang efek sampingnya justru membahayakan pasien. Namun dari 9 senyawa yang ditemukan pada kecoa dan beberapa spesies serangga lain termasuk belalang, para peneliti tidak menemukan efek samping yang serius bagi manusia. Oleh karena itu temuan ini dinilai telah memberikan harapan baru dalam upaya mengendalikan pertumbuhan dan penyebaran bakteri super.Temuan ini juga sekaligus memperbaiki citra kecoa sebagai serangga yang selalu diidentikkan dengan lingkungan kotor. Padahal meski hidup di tempat sampah dan saluran pembuangan limbah, kecoa termasuk binatang paling higienis karena rajin membersihkan diri seperti halnya kucing. Beberapa penelitian menunjukkan, bakteri jauh lebih suka hidup di kulit manusia dibandingkan di permukaan tubuh kecoa. Karena itu, mengambil makanan tanpa cuci tangan sebenarnya sama joroknya dengan menyantap makanan yang baru saja dilewati kecoa. Kalaupun ada gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kecoa, maka yang paling bertanggung jawab adalah kotorannya. Beberapa senyawa dalam feses dan urin kecoa mengandung senyawa yang dapat memicu reaksi alergi bagi sebagian orang, berupa ruam di kulit dan reaksi lain termasuk serangan asma. (Diposkan oleh "Servire cum Virtute Spiritus Sancti")

C. Jangkrik
Jangkrik adalah serangga kecil yang rajin bernyanyi, terutama pada malam hari sehabis hujan. Suaranya yang nyaring menimbulkan sensasi tersendiri seolah membawa kita untuk melawat kembali ke jaman ketika negeri kita terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Suara jangkrik akan semakin keras dengan naiknya suhu di sekitarnya.
Seiring dengan bertambahnya waktu, keberadaan jangkrik semakin terdesak dan sulit didapat karena habitat hidupnya semakin sempit. Saat ini orang ramai memelihara jangkrik bukan saja untuk didengarkan keindahan suaranya tetapi untuk keperluan ekonomi, karena harga jualnya yang semakin meningkat. Menurut informasi yang didapat harga per kilogramnya adalah Rp. 30.000,-.
Jangkrik hasil budidaya, biasanya digunakan untuk keperluan pakan ikan, burung atau hewan peliharaan lainnya sedangkan untuk konsumsi biasanya diolah dulu menjadi kue kering atau cukup dengan digoreng saja.

Kandungan dan Manfaat
Jangkrik mengandung 105,49 ppm hormon progesteron dan 259,535 hormon esterogen. hormon itu diketahui baik untuk membangun vitalitas perempuan. Misalnya, bermanfaat untuk pertumbuhan sekunder serta kesuburan, di samping bisa mengurangi rasa nyeri saat menopause dan membuat siklus menstruasi lancar.
Jangkrik juga menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram, jauh di atas bahan makanan lainnya, data penelitian menyebutkan jangkrik memiliki senyawa kimia seperti asam amino yang dibutuhkan untuk proses pembentukan sel. Selain itu, jangkrik juga mengandung glutation (GSH) dan berfungsi sebagai antioksidan alami pada tubuh manusia
Kandungan proteinnya yang mencapai 57,32 persen (sesuai penelitian Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto) membuat jangkrik layak untuk dikonsumsi manusia




BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan
            Dari makalah diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1)      Ordo Othoptera dibagi menjadi enam subordo yaitu subordo Caelifera, Ensifera, Mantodae, Phasmatodae, Blasttodae, Grylloblasttodae.
2)      Ordo Othoptera memiliki ciri-ciri tubuh antara lain : tubuh umumnya berbentuk silinder, dengan kaki belakng memanjang untuk melompat, memiliki mulut mandibulate dan mata majemuk yang besar.
3)      Belalang adalah salah satu serangga yang dapat mengganggu kelangsungan hidup tanaman, namun belalang juga dapat membantu dalam penyerbukan tanaman. Tidak semua belalang adalah hama, ada pula yang tergolong kedalam musuh alami.
DAFTAR PUSTAKA


Anonim.2008.Sistem transportasi   hewan.http://gurungeblog.wordpress.com /2008/10/31 /sistem-transportasi-hewan.(diakses 24 November 2010)


Dinda.2008.Insecta.http://dinda-science.blogspot.com/2008/09/insecta.html.(diakses 24 November 2010)

Partosoedjono,Soetiyono.1992.Pengenalan Pelajaran Serangga.Gajah mada University Press

Read More ->>

turun lapang

turun lapang

turun lapang

turun lapang
Diberdayakan oleh Blogger.